Langsung ke konten utama

Tidak Sedemikian

Cerita dikemudian hari, ketika aku menjadi terapi luka hati yang tersayat perihnya kasih yang tak terucap. 
Mulut. 
Satu organ yang sangat sulit diajak untuk diajak jujur, terutama bicara soal perasaan.
Gue engga maksud apa-apa, ngga maksud sok puitis atau apalah apalah itu. rasanya cuma kata-kata itu yang tersirat diotak imut gue ketika ada hasrat ngepost sesuatu ke blog gue ini.

Oke tjoy (n: coy), gue disini cuma mau ngelurusin apa yang sebenernya yang terjadi sama gue.
akhir akhir ini gue dilanda melaw tjoy, saking parahnya gue kalau mau defec ke kamar mandi (Lah emang kemana ti?-_-)

perasaan aneh tiba-tiba aja nyerang gue tanpa alasan yang jelas. wajar kali ya, masih imut umur 17 tahun gini, pasti perasaan labil masih datang dan pergi (eeh udah kaya gebetan). Sorry tjoy, lo jomblo? jangan khawatir, ngga ada yang taken lebih baik dari jomblo :). Lo pernah liat daun berguguran? kaya gitulah bayangan keadaan gue saat ini.
Hambur, hambar-hambar pisang (laaaah)
Lo pernah nyentuk titik terjenuh lo? kalau belum gue bisa beberin.

Titik Terjenuh. (n) Titik keadaan dimana lo ngga bisa ngerasain sebahagia dulu. ngga se-diri-lo kaya dulu. Ngga bisa dapet destinasi ketika lo bisa becanda ala lo. Intinya ngga se-keren pemikiran lo.
Gue percaya, Allah nyiptain otak gue seksi, jadi pasti dia (otak) kerja keras banting tulang siang-malam kerja rodi berusaha biar gue ngga depresi atau jatuh terpuruk tak ada yang menahan (nees-_-)

Apa yang gue lakuin dari minggu ketemu minggu lain ngga ada rasanya. ngga semangat berbuat apapun. Lebih sakit  dan lebih banyak kehilangan disminorhoe.
Gua selalu bersyukur Allah menciptakan hati yang begitu kuat, 1000x lebih kuat dari baja yang buatan manusia atau bahkan tak terhingga, gua selalu berdoa semoga Allah selalu tanamkan sifat beryukur dan tawakal dalam diri gue disamping gua memupuknya.

"Daun  hijau udah jadi cokelat. Cokelat rasa sarikaya. Ngga semua suka meski enak. 
Terimakasih hati, aku yakin kamu kuat menjalani kesenangan dan kesakitanku"-Putrisausan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepribadian Ganda (?)

Agak serem yah denger judulnya -KEPRIBADIAN GANDA- yang jelas gua bukan waria, atau ladyboys atau tom queen (googling penyimpangan seks orang thailand) Akhir-akhir ini, gue sering dapet protes dari teman-teman gua "Lo anti sosial gini sih ti", padahal gak ada maksud. memang, gua bukan tipe orang yang supel dan lebih banyak mengahbiskan waktu sendiri. Inilah alasan gua jarang banget dapet temen hehe. Sekalipun punya temen, ya pasti akrab banget dan gak mau punya temen lain , atau gua malah sebel kalo temen gua punya temen lain yang lebih bisa bikin nyaman daripada gua. Salah? Iya emang salah, gua harusnya ngga boleh begitu, karena Teman itu imilik bersama. Gua ngerasa malah makin jauh dari sosial orang-orang terhitung semenjak gua menginjak tingkat akhir, semester 6. Iya, gua kuliah di D-III, bukan S-1. When you walk alone, you get what u feelin and you just relax.  Bisa ngobrol sama diri sendiri, lebih banyak menghayal (bukan yang jorok), dan pasti bahagia baca Webt...

Kotu Ala Kita III

Semua berubah sejak kita ketinggalan kereta pulang hiyaaaattt 15.35 kita menuju stasiun Kota. liat jadwal . ada kereta ke walantaka yang datangnya jam 15.55 tapi dari stasiun angke. 20 Menit meen ? gimana caranya nyampe Stasiun Muara  Angke sebelum kereta berangkat. Pusing, Mual, Emosi arh numpuk diubun-ubun Rangga pemimpin perjalanan, cuma dia harapan kami satu-satunya. Sudah banyak asam-garam yang dihabiskan dengan membolang ke kota orang. Rangga, bantu kami! Dengan sigap Ia menghampiri Abang Bajaj yang lagi ngelamun mikirin anak-bininya *oke ini asumsi gue aja*. Ngga enaknya kita ngebuyarin kamunannya. Dialog yang gue inget antara Rangga dan Abang Bajaj yang sayang anak dan istri. "Bang ke angke berapa?" " Ngejar kereta ya?" "Iya bang, berape?" "Kalau untuk yang buru-buru satu orang 10rebu aje cah" "Wih bang mahal gila. jangan gitulah goceng bang yak" "Yaa jgn gitu juga lah. udah deal 7500!" *tujuh rebu maratus?...

Ada Bintang Lain

Layaknya dedaunan yang rapuh berjatuhan ditanah, aku tak bisa lagi melihatnya hijau, aku tak bisa lagi memandangnya yang sedang bertengger diatas dahan dengan ringannya. Seperti rasa yang tak pernah bisa tercerna, seperti sebuah hasrat yang enggan menumpahkan kemarahannya. Aku bagaikan bintang tanpa cahaya, bintang lain mencuri itu dariku. Demi seonggok benda langit lain yang lebih indah, akhirnya sahabat setahun lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang berbalut tanpa kegemilangan. Bisa bayangkan sendiri pedihnya memiliki rasa yang tak dianggap, Yaa akulah dia. Dia yang dicampakkan, Dia yang selalu mengorbankan apapun demi oranglain, Dia yang selalu tak bisa memahamimu seperti bintang lain itu. Dia yang takpernah bisa dan takkan pernah bisa mendapatkan apa yang bisa dia dapatkan. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, tidak sepertimu yang memikirkan kebahagiaan bintang lain itu. Aku tak cukup mengerti dengan saling berbagi dan memberi kasih, karna kau tidak pernah memper...