Langsung ke konten utama

Serba-serbi Remaja

Kehidupan remaja bagaikan kehidupan emas. Titik puncak pencarian jati diri manusia ada disini. Berbagai spekulasi sudah dapat dicerna dengan cerdas (melalui hati dan pikiran). 

Tak sembarang pendapat dikeluarkan. Dan pada intinya makhluk yang berjenis "Remaja" ini sudah mulai bisa menunjukkan potensi diri melalui berbagai karya yang mereka ciptakan, demi mendapat pengakuan dan penghargaan atas apa yang diciptakan dirinya.

Lebih mudahnyaa saya memantau diri saya sendiri. 
Saya sebagai remaja tentu saja ingin mendapatkan perhatian yang lebih dari banyak orang, berusaha mendapatkan teman yang banyak dan selalu mencari pengalaman yang baru. dari sini saya mengetahui bahwa saya sedang dalam masa transisi. Dulu saya begitu cuek dengan kondisi saya, saya enyahkan segala pendapat dari banyak orang tentang saya yang bla bla bla. Tapi kini saya merasakan perubahan yang signifikan. Saya lebih mendengarkan pendapat orang lain untuk merubah diri saya menjadi lebih baik. terkecuali jika spekulasi orang hanya bersifat menjatuhkan, maka yang sejenis ini saya abaikan.

Teman-teman seperjuangan, tahukan kalian bahwa peran kita di masyarakat sangatlah penting. mengapa? karena posisi sebagai remaja adalah makhluk yang lebih mudah menyerap segala perubahan dan permasalah, lebih mudah terprovokasi oleh hal-hal yang sifatnya membangun untuk menuju yang lebih baik. Kita akan lebih mudah mengajak komponen-komponen yang unggulan (lembaga) untuk membantu menyelesaikan masalah kita. Kita yang masih berimajinasi tinggi & kuat akan perasaan.

Maka berbanggalah kita (Remaja Indonesia) bisa berpartisipasi dalam bermacam aspek pembangunan & penyelesaian masalah kependudukan yang rumit di Indonesia.
Karena Bung Karno pun telah mengatakan "Berikan aku satu pemuda, maka aku akan merubah dunia"

-Putri, Remaja hampir 19tahun yang akan merubah dunia dengan kata-kata-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepribadian Ganda (?)

Agak serem yah denger judulnya -KEPRIBADIAN GANDA- yang jelas gua bukan waria, atau ladyboys atau tom queen (googling penyimpangan seks orang thailand) Akhir-akhir ini, gue sering dapet protes dari teman-teman gua "Lo anti sosial gini sih ti", padahal gak ada maksud. memang, gua bukan tipe orang yang supel dan lebih banyak mengahbiskan waktu sendiri. Inilah alasan gua jarang banget dapet temen hehe. Sekalipun punya temen, ya pasti akrab banget dan gak mau punya temen lain , atau gua malah sebel kalo temen gua punya temen lain yang lebih bisa bikin nyaman daripada gua. Salah? Iya emang salah, gua harusnya ngga boleh begitu, karena Teman itu imilik bersama. Gua ngerasa malah makin jauh dari sosial orang-orang terhitung semenjak gua menginjak tingkat akhir, semester 6. Iya, gua kuliah di D-III, bukan S-1. When you walk alone, you get what u feelin and you just relax.  Bisa ngobrol sama diri sendiri, lebih banyak menghayal (bukan yang jorok), dan pasti bahagia baca Webt...

Kotu Ala Kita III

Semua berubah sejak kita ketinggalan kereta pulang hiyaaaattt 15.35 kita menuju stasiun Kota. liat jadwal . ada kereta ke walantaka yang datangnya jam 15.55 tapi dari stasiun angke. 20 Menit meen ? gimana caranya nyampe Stasiun Muara  Angke sebelum kereta berangkat. Pusing, Mual, Emosi arh numpuk diubun-ubun Rangga pemimpin perjalanan, cuma dia harapan kami satu-satunya. Sudah banyak asam-garam yang dihabiskan dengan membolang ke kota orang. Rangga, bantu kami! Dengan sigap Ia menghampiri Abang Bajaj yang lagi ngelamun mikirin anak-bininya *oke ini asumsi gue aja*. Ngga enaknya kita ngebuyarin kamunannya. Dialog yang gue inget antara Rangga dan Abang Bajaj yang sayang anak dan istri. "Bang ke angke berapa?" " Ngejar kereta ya?" "Iya bang, berape?" "Kalau untuk yang buru-buru satu orang 10rebu aje cah" "Wih bang mahal gila. jangan gitulah goceng bang yak" "Yaa jgn gitu juga lah. udah deal 7500!" *tujuh rebu maratus?...

Ada Bintang Lain

Layaknya dedaunan yang rapuh berjatuhan ditanah, aku tak bisa lagi melihatnya hijau, aku tak bisa lagi memandangnya yang sedang bertengger diatas dahan dengan ringannya. Seperti rasa yang tak pernah bisa tercerna, seperti sebuah hasrat yang enggan menumpahkan kemarahannya. Aku bagaikan bintang tanpa cahaya, bintang lain mencuri itu dariku. Demi seonggok benda langit lain yang lebih indah, akhirnya sahabat setahun lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang berbalut tanpa kegemilangan. Bisa bayangkan sendiri pedihnya memiliki rasa yang tak dianggap, Yaa akulah dia. Dia yang dicampakkan, Dia yang selalu mengorbankan apapun demi oranglain, Dia yang selalu tak bisa memahamimu seperti bintang lain itu. Dia yang takpernah bisa dan takkan pernah bisa mendapatkan apa yang bisa dia dapatkan. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, tidak sepertimu yang memikirkan kebahagiaan bintang lain itu. Aku tak cukup mengerti dengan saling berbagi dan memberi kasih, karna kau tidak pernah memper...