Langsung ke konten utama

Baper yang Lalu

Assalamualaikum. ya kamu yang disana.
Masih ingat sama aku? yang pernah membangun kenangan sama kamu.
terimakasih sudah sempat membuatku baper sampai jatuh hati denganmu.

kamu tau? kamu lebih manis dari susu strawberry, percayalah.
kamu mesti tau, kalau aku sempat tak bisa tidur karna ketawa-nya kamu mengiang-ngian dan sangat mengganggu. lalu aku telfon kamu. tapi kamu tak mau angkat. aku cek jam. ternayata sudah jam 3 malam, pantas saja. aku tau waktu itu kamu masih tidur manis. maafkan aku sempat mengganggu kamu tidur.

Pasti kamu masih mengingatnya, dimana kamu mengirimi aku pesan singkat. "Hey, aku kangen kamu". aku sangat rindu pesan itu. sayang sekali.
Aku pernah sempat kesal karena kamu tak bisa mau mendengarkanku. kamu nakal. kubilang hujan kamu masih saja menjemputku. katamu "kan aku kangen". tapi aku sayang.

aku deg-degan saat kamu bawa aku dengan motormu. keliling kota. dan bilang "klakson kendaraan itu sangat berisik". kamu menatapku dari spion. "tapi aku tak peduli, aku sayang kamu"
aku senang meski hujan. hujan menemanimu manyampaikan rindu padaku, dan aku menikmatinya.

Kamu suka marah kalau aku dekat dengan yang lain. Tapi kamu tak pernah benar-benar marah. Katamu "Orang antik kaya kamu ngga boleh dimarahin". Aku tanya kenapa? "Nanti kamu ilang antiknya, malah jadi cantik". Bagus dong. "Kamu udah cantik, ngga perlu dibikin cantik lagi. nanti yang lain suka". Aku greget sama kamu.

Pernah temanku kamu kasih pesan. Dian bingung harus apa. Dia bilang "Aku tak pernah sejatuhcinta seperti ini. Sama dia. Bilang ya, terimakasih sudah menemaniku menghabiskan bensin dijalan". Kata dia kamu lucu. Kita bikin iri dan aku senang hihi

***********
Andai kita tak saling membenci  mungkin sekarang kita masih.
Kita pernah sedekat dulu, tapi sekarang sejauh barat dan timur.
Aku tak pernah semerindu yang dulu.
Terimakasih sudah memberi baper yang bahagia.

-Yang merindukan baper, Putrisausan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepribadian Ganda (?)

Agak serem yah denger judulnya -KEPRIBADIAN GANDA- yang jelas gua bukan waria, atau ladyboys atau tom queen (googling penyimpangan seks orang thailand) Akhir-akhir ini, gue sering dapet protes dari teman-teman gua "Lo anti sosial gini sih ti", padahal gak ada maksud. memang, gua bukan tipe orang yang supel dan lebih banyak mengahbiskan waktu sendiri. Inilah alasan gua jarang banget dapet temen hehe. Sekalipun punya temen, ya pasti akrab banget dan gak mau punya temen lain , atau gua malah sebel kalo temen gua punya temen lain yang lebih bisa bikin nyaman daripada gua. Salah? Iya emang salah, gua harusnya ngga boleh begitu, karena Teman itu imilik bersama. Gua ngerasa malah makin jauh dari sosial orang-orang terhitung semenjak gua menginjak tingkat akhir, semester 6. Iya, gua kuliah di D-III, bukan S-1. When you walk alone, you get what u feelin and you just relax.  Bisa ngobrol sama diri sendiri, lebih banyak menghayal (bukan yang jorok), dan pasti bahagia baca Webt...

Kotu Ala Kita III

Semua berubah sejak kita ketinggalan kereta pulang hiyaaaattt 15.35 kita menuju stasiun Kota. liat jadwal . ada kereta ke walantaka yang datangnya jam 15.55 tapi dari stasiun angke. 20 Menit meen ? gimana caranya nyampe Stasiun Muara  Angke sebelum kereta berangkat. Pusing, Mual, Emosi arh numpuk diubun-ubun Rangga pemimpin perjalanan, cuma dia harapan kami satu-satunya. Sudah banyak asam-garam yang dihabiskan dengan membolang ke kota orang. Rangga, bantu kami! Dengan sigap Ia menghampiri Abang Bajaj yang lagi ngelamun mikirin anak-bininya *oke ini asumsi gue aja*. Ngga enaknya kita ngebuyarin kamunannya. Dialog yang gue inget antara Rangga dan Abang Bajaj yang sayang anak dan istri. "Bang ke angke berapa?" " Ngejar kereta ya?" "Iya bang, berape?" "Kalau untuk yang buru-buru satu orang 10rebu aje cah" "Wih bang mahal gila. jangan gitulah goceng bang yak" "Yaa jgn gitu juga lah. udah deal 7500!" *tujuh rebu maratus?...

Ada Bintang Lain

Layaknya dedaunan yang rapuh berjatuhan ditanah, aku tak bisa lagi melihatnya hijau, aku tak bisa lagi memandangnya yang sedang bertengger diatas dahan dengan ringannya. Seperti rasa yang tak pernah bisa tercerna, seperti sebuah hasrat yang enggan menumpahkan kemarahannya. Aku bagaikan bintang tanpa cahaya, bintang lain mencuri itu dariku. Demi seonggok benda langit lain yang lebih indah, akhirnya sahabat setahun lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang berbalut tanpa kegemilangan. Bisa bayangkan sendiri pedihnya memiliki rasa yang tak dianggap, Yaa akulah dia. Dia yang dicampakkan, Dia yang selalu mengorbankan apapun demi oranglain, Dia yang selalu tak bisa memahamimu seperti bintang lain itu. Dia yang takpernah bisa dan takkan pernah bisa mendapatkan apa yang bisa dia dapatkan. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, tidak sepertimu yang memikirkan kebahagiaan bintang lain itu. Aku tak cukup mengerti dengan saling berbagi dan memberi kasih, karna kau tidak pernah memper...